26 Juni 2021 - 11:21
Rahbar Disuntik Vaksin Produksi Dalam Negeri

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar pada Jumat (25/6) mendapatkan suntikan pertama vaksin Corona buatan Iran, COVIran Barekat. Menurutnya, kebanggaan nasional ini yaitu produksi vaksin Iran, harus dijaga.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar pada Jumat (25/6) mendapatkan suntikan pertama vaksin Corona buatan Iran, COVIran Barekat. Vaksin yang merupakan produk dan hasil jerih payah para peneliti dan ilmuwan muda Iran itu, baru-baru ini mendapat lisensi untuk bisa digunakan yang dengan demikian Iran resmi menjadi salah satu dari enam negara produsen vaksin corona di dunia.

Ayatullah Sayid Ali Khamanei, setelah mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang dengan pengetahuan, pengalaman, kerja keras dan tindakan nyatanya, telah menciptakan kebanggaan nasional bagi Iran. Ia berkata, “Saya berterimakasih kepada Menteri Kesehatan Iran dan seluruh pihak terkait di Kementerian Kesehatan, kepada Tuan Mokhber dan koleganya yang dalam masalah ini, dan masalah-masalah lainnya bangkit dengan kepedulian, kecintaan, kepeloporan, dan kemampuannya, kepada Dr. Marandi, dan Dr. Sajjadi karena terus mengontrol kesehatan saya."

Mengacu pada informasi bahwa Rahbar telah divaksinasi beberapa bulan yang lalu, Pemimpin Tertinggi Revolusi mengatakan, "Sejak awal, saya tidak ingin menggunakan vaksin non-Iran, jadi saya katakan saya akan menunggu vaksin Iran karena kami harus menghormati kebanggaan nasional ini dan jika memungkinkan untuk mencegah dan mengobati penyebaran virus di dalam negeri, mengapa tidak menggunakan kesempatan itu?"

Lebih lanjut Rahbar menambahkan, "Tentu saja, bila diperlukan, penggunaan vaksin asing bersama dengan vaksin Iran tidak menjadi masalah, tetapi kita harus menghormati vaksin Iran dan semua ilmuwan muda, pekerja keras dan aktif dalam produksi vaksin ini dan pusat-pusat lain yang memproduksi vaksin di dalam negeri."

"Selain bersikukuh menggunakan vaksin Iran, saya menekankan bahwa vaksin harus diterima secara alami. Hari ini, alhamdulillah orang-orang di atas usia 80 dan rekan-rekan saya telah melakukan vaksinasi." Tambahnya. 

Dia juga menekankan perlunya mendaftarkan dokumen ilmiah dan menerbitkan artikel yang berkaitan dengan vaksin produksi Iran tersebut. Ia berkata, "Selain produksi vaksin yang harus digencarkan secara cepat dan tepat waktu, siapkan dan publikasikan dokumen dan artikel ilmiah agar dunia tahu tentang karya besar yang menjadi kebanggaan nasional ini."

Menteri Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran Saeed Namaki, menyambut baik dukungan Rahbar dan mengucapkan terima kasih kepada Pemimpin Tertinggi atas dukungannya. Pada momen itu ia berkata, "Mengenai vaksin, kami menyadari untuk pencegahan secara cepat, penyediaan vaksin harus disegerakan karena itu, kami harus mengimpor terlebih dahulu sembari terus melanjutkan penelitian untuk memproduksi vaksin sendiri. Selain pembuatan vaksin, kementerian kesehatan terusa berupaya memastikan kerjasama dengan semua pihak dalam menjamin ketersediaan masker untuk pencegahan dan dan generator oksigen untuk penyembuhan."

Menteri Kesehatan Iran lebih lanjut mengatakan, "Kami menargetkan, pada akhir Agustus, kelompok rentan, pasien yang tidak dapat disembuhkan, dan orang berusia di atas 60 tahun akan menerima vaksin, setelah itu beralih pada kelompok pelajar dan pejabat sekolah akan mendapatkan vaksinasi secara nasional."

Dr. Namaki juga menginformasikan tentang kegiatan kelompok khusus untuk mencatat dokumen ilmiah berbagai vaksin yang diproduksi di dalam negeri dan mempresentasikan dokumen tersebut kepada organisasi internasional.

Mengenai tindakan pencegahan yang diperlukan setelah vaksin, Namaki mengatakan, "Masker tetap harus digunakan, karena vaksin mengurangi risiko penyakit serius, tetapi masih ada kemungkinan infeksi."

Disebutkan, tindakan vaksin yang dilakukan terhadap Ayatullah Sayid Ali Khamanei dengan menggunakan vaksin buatan dalam negeri adalah peristiwa bersejarah bagi bangsa Iran. Peristiwa tersebut disebut menambah kepercayaan diri Iran atas kemampuannya untuk mandiri dan tidak memiliki ketergantungan pada negara lain. Lebih dari 200 peneliti muda dengan usia rata-rata dibawah 30 tahun yang terlibat dalam penemuan dan produksi vaksin COVIran Barekat. 

Disebutkan, Kementerian Kesehatan dengan bekerjasama dengan semua pihak menargetkan sebagian besar kebutuhan negara akan vaksin akan terpenuhi pada ada akhir September.